LAPORAN
PRAKTIKUM FLUIDA
“UJI KERENYAHAN”
LKM
6
OLEH:
1. Sabiili
Yuliastuti (12030654205)
2. Eka
Yuliati S (12030654217)
3. Dewi
Puspita Sari (12030654220)
4. Fita
Sukma Arini (12030654228)
5. Utari
Yulia Ariska (12030654237)
UNIVERSITAS
NEGERI SURABAYA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM
STUDI S1 PENDIDIKAN SAINS
2014
UJI KERENYAHAN
Sabiili Yuliastuti, Eka Yuliati S, Dewi Puspita Sari, Fita Sukma Arini, dan Utari Yulia Ariska
UNIVERSITAS
NEGERI SURABAYA
ABSTRAK
Kerupuk merupakan makanan ringan yang dibuat dari adonan
tepung tapioka dan dicampur dengan bahan perasa. Sifat renyah
pada produk kerupuk berpengaruh terhadap kualitas produk pangan dan berperan
dalam metode penyimpanan suatu produk pangan, massa suatu kerupuk juga
perpengaruh terhadap kerenyahan kerupuk. Untuk
menyelidiki pengaruh massa kerupuk terhadap kerenyahan, maka dilakukan
percobaan uji kerenyahan. Variabel yang digunakan yaitu variabel
manipulasinya adalah jenis krupuk, variabel kontrol terdiri dari ketebalan, penampang krupuk, luas penampang alat penekan
serta variabel responnya adalah kerenyahan. Metode yang digunakan yaitu
mengkalibrasi timbangan digital, membentuk luas penampang kerupuk dengan luas
yang hampir sama, kemudian menimbang massa awal setiap jenis krupuk. Setelah
itu, menyusun alat sesuai rancangan percobaan. Sebelum meletakkan kerupuk di
atas balok penyangga, maka mengkalibrasi timbangan digital. Selanjutnya
meletakkan krupuk di atas antara dua balok penyangga, lalu menekan krupuk
dengan alat tekan sambil mengamati massa yanng ditunjukkan timbangan digital
dan mencat massa ketika krupuk patah. Mengulangi setiap percoban tersebut
dengan jenis krupuk yang berbeda. Dari hasil percobaan diperoleh data dari kerupuk puli m
awal sebesar 3,4 g, m ketika patah sebesar 13729,0 g, Δm sebesar 13725,6 g, F
sebesar 137,256 N, dan σ sebesar 66693,87 N/m2. Untuk kerupuk yang kedua yaitu
kerupuk blinjo m awal sebesar 3,7 g, m ketika patah sebesar 3940,0 g, Δm
sebesar 3936,3 g, F sebesar 39,363 N, dan σ sebesar 19126,82 N/m2. Untuk kerupuk yang ketiga
yaitu kerupuk tempe m awal sebesar 1,8 g, m ketika patah sebesar 5875,0 g, Δm
sebesar 5873,2 g, F sebesar 58,732 N σ
sebesar 28538,39 N/m2. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa
kerenyahan dari krupuk dipengaruhi oleh jenis krupuk. Kerenyahan kerupuk dapat
diketahui melaui nilai ∆m dan nilai tegangan puncaknya. Semakin kecil nilai
∆m pada kerupuk maka semakin kecil pula tegangan puncaknya, sehingga semakin
tinggi tingkat kereyahan pada kerupuk.
Kata Kunci: Massa Kerupuk, Gaya (F), Tegangan Puncak (σ), Jenis Kerupuk, Kerenyahan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kerupuk merupakan makanan ringan yang
dibuat dari adonan tepung
tapioka dan dicampur dengan bahan perasa, seperti udang atau ikan. Tekstur
kerupuk yang baik memiliki kerenyahan yang baik, volume mengembang dengan baik
dan penampakan menarik. Sifat renyah pada produk kerupuk berpengaruh
terhadap kualitas produk pangan dan berperan dalam metode penyimpanan suatu
produk pangan.
Banyak
jenis kerupuk yang memiliki massa
yang berbeda-beda dijual di
pasaran, seperti kerupuk udang, blinjo, kerupuk puli, kerupuk tempe, dan sebagainya. Akan tetapi, sering
kita jumpai produk krupuk yang dijual ada yang renyah dan ada yang mlempem.
Oleh
karena itu, dilakukan uji kerenyahan pada beberapa jenis kerupuk dan memiliki massa yang berbeda. Sehingga dapat
diketahui pengaruh massa kerupuk terhadap tingkat kerenyahan kerupuk.
Bagaimana pengaruh
jenis kerupuk terhadap kerenyahan
kerupuk?
C. Tujuan
Mengetahui pengaruh jenis kerupuk terhadap kerenyahan kerupuk.
D. Hipotesis
Jenis kerupuk mempengaruhi kerenyahan kerupuk.
BAB II
KAJIAN TEORI
Uji Kerenyahan Kerupuk
Kerupuk merupakan makanan ringan yang dibuat
dari adonan tepung tapioka dan dicampur dengan bahan perasa, seperti udang
atau ikan. Pada dasarnya bahan baku pembuatan kerupuk adalah amilosa dan
amilopektin. Pengujian
makanan ini meliputi dua hal, pengujian subjektif yang melibatkan panca indra
dan pengujian objektif yang menggunakan parameter-parameter pada bidang
biologi, fisika dan kimia. Praktikum “Uji Kerenyahan” dengan pengujian
subjektif sering dilakukan dengan memanfaatkan tanggapan indra seseorang
terhadap renyahnya makanan, termasuk uji mutu organoleptik. Namun dalam
kegiatan pengujian kerenyahan secara objektif, untuk dapat mengidentifikasi
manakah kerupuk yang memiliki kerenyahan serta ketidakrenyahan dilakukan dengan
parameter fisis.
Tekstur kerupuk yang baik adalah kerenyahan
yang baik, volume mengembang yang baik dan penampakan menarik. Kerenyahan
kerupuk goreng meningkat sejalan dengan meningkatnya volume pengembangan
kerupuk goreng (Istanti, 2006). Kerenyahan kerupuk sangat ditentukan oleh kadar
airnya. Semakin banyak mengandung air, maka kerupuk akan semakin kurang renyah
(Soemarmo, 2005).
Faktor yang mempengaruhi kerenyahan
kerupuk:
1. Kondisi penyimpanan
Kerupuk
yang disimpan dalam kondisi kedap udara akan tetap renyah dibandingkan dengan
kerupuk yang disimpan tanpa pelindung (tidak dikemas). Kerupuk yang tidak
dikemas akan berkurang kerenyahannya karena menyerap uap air dan dilewati udara
sehinga menjadi lempem.
2. Suara
Kerupuk
yang masih renyah menghasilkan suara yang lebih baik (nyaring) dibandingkan
kerupuk yang sudah melempem (intensitas suara kecil).
3. Tekstur
Tekstur
kerupuk berpengaruh terhadap kerenyahan kerupuk itu sendiri. Kerupuk yang
renyah memiliki tekstur yang lebih keras dan tidak lembek sehingga menghasilkan suara yang nyaring saat
dihancurkan.
Menurut
de Man (1997), kerenyahan atau kerapuhan didefinisikan sebagai gaya yang
menyebabkan bahan patah. Sehingga dapat dikatakan bahwa kerenyahan kerupuk
berhubungan erat dengan tingkat kemekaran kerupuk. Kemekaran juga dipengaruhi
oleh tebal tipisnya pengirisan kerupuk dan mikro struktur bahan makanan.
Menurut Matz (1962) di dalam Rahmi (1999), bahwa semakin halus mikro
strukturnya maka produk yang dihasilkan lebih mudah pecah saat digigit,dikunyah
atau dihancurkan sehingga produk semakin renyah.
Dalam kegiatan pengujian kerenyahan
secara objektif, untuk
dapat mematahkan kerenyahan kerupuk, maka diberikanlah suatu tekanan yang
bekerja pada bahan kerupuk tersebut. Tekanan (P)
sendiri adalah satuan fisika untuk menyatakan gaya (F) per satuan luas (A).
Apabila suatu gaya tekan diberikan pada salah satu permukaan kerupuk, maka
tekanan tersebut akan ditahan kerupuk dan di dalam kerupuk akan mengalami
adanya tegangan
atau stress. Tegangan atau stress adalah perbandingan antara gaya yang bekerja
pada benda dan luas penampang benda. Tegangan yang muncul adalah reaksi yang timbul di
seluruh bagian spesimen dalam rangka menahan beban yang diberikan. Dari hal
tersebut yang bertindak sebagai spesimen adalah kerupuk dan kerupuk tersebut
menegang atau mengalami stress ketika
menahan beban yang diberikan. Bila penampangnya kecil itu dijumlah hingga
mencapai penampang spesimen, maka jumlah gaya per satuan luas yang muncul di
dalam bahan itu harus menjadi sama dengan beban dari luar. Ketika spesimen
(kerupuk) tersebut terus-menerus mengalami tekanan dari alat penekan, maka
tegangan (stress) yang dihasilkan
akan terus menerus meningkat hingga mencapai tegangan maksimumnya (tegangan
puncak) dan apabila hal ini dibiarkan maka kerupuk lama-kelamaan akan pecah.
Tegangan puncak adalah tegangan sesaat terbesar yang mungkin terjadi.
Secara
fisika, satuan yang digunakan dalam penjabaran tegangan adalah satuan gaya
dibagi dengan satuan luas penampang. Pada satuan SI, gaya diukur dalam Newton
(N) dan luas diukur dalam satuan meter kuadrat (m2). Biasanya, 1 N/m2
dikenal sebagai 1 Pascal (Pa). Apabila dijabarkan dalam rumus adalah sebagai
berikut:
σ :
Tegangan (N/m2)
F
: gaya (Newton)
A :
luas (m2)
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
A. Rancangan Percobaan
A. Alat dan Bahan
1.
Timbangan digital 1
buah
2.
Balok penyangga 2
buah
3.
Alat tekan (balok kayu) 1
buah
4.
Jenis krupuk (krupuk blinjo, 1
buah
krupuk puli, dan krupuk tempe)
B. Variabel Percobaan
1.
Variabel manipulasi : jenis krupuk
Devinisi operasional :
macam pada krupuk (krupuk blinjo,
krupuk puli, dan krupuk tempe)
2. Variabel kontrol : ketebalan
dan, penampang krupuk, luas penampang
alat penekan
Devinisi operasional :
sisi panjang krupuk yang terletak diantara bagian permukaan yang luas dari
krupuk, bagian krupuk yang mempunyai
luas bidang paling besar yang terdiri dari 2 sisi, dan bagian yang menyentuh
krupuk
3.
Variabel respon : kerenyahan
Devinisi operasional :
tingkat kekuatan krupuk bertahan dari benturan
C. Alur
A. Langkah Percobaan
Langkah
awal adalah mengkalibrasi timbangan digital, kemudian membentuk luas penampang
krupuk agar sedemikian rupa mempunyai luas yang hampir sama. Lalu menimbang
massa awal setiap jenis krupuk. Setelah itu menyusun alat sesuai rancangan
percobaan. Sebelum meletakkan krupuk di atas balok penyangga, maka mengkalibrasi
timbangan digital. Selanjutnya meletakkan krupug di atas antara duan balok
penyangga, lalu menekan krupuk dengan alat tekan sambil mengamati massa yanng
ditunjukka timbangan digital dan mencat massa ketika krupuk patah. Mengulangi
setiap percoban tersebut dengan jenis krupuk yang berbeda.
BAB IV
DATA DAN ANALISIS
A. Data
Tabel 1 Hasil data percobaan
Jenis
|
m awal
(m ± 0,1 g)
|
massa ketika patah
( m ± 0,1 g)
|
Δm
(m ± 0,1 g)
|
F (N)
(Δm.g)
|
σ (N/m2)
F/A
|
Kerupuk puli
|
3,4
|
13729,0
|
13725,6
|
137,256
|
66693,87
|
Blinjo
|
3,7
|
3940,0
|
3936,3
|
39,363
|
19126,82
|
Kerupuk tempe
|
1,8
|
5875,0
|
5873,2
|
58,732
|
28538,39
|
B. Analisis
Dari
hasil percobaan uji kerenyahan dengan menggunakan jenis kerupuk yang
berbeda-beda dengan luas penampang krupuk yang dibuat hampir sama diperoleh
data bahwa dengan menggunakan kerupuk pertama yaitu kerupuk puli m awal sebesar
3,4 g, m ketika patah sebesar 13729,0 g, Δm sebesar 13725,6 g, F (Δm.g) sebesar 137,256 N, dan σ (N/m2) F/A
sebesar 66693,87 N/m2. Untuk kerupuk yang kedua yaitu kerupuk blinjo
m awal sebesar 3,7 g, m ketika patah sebesar 3940,0 g, Δm sebesar 3936,3 g, F (Δm.g) sebesar 39,363 N, dan σ (N/m2) F/A
sebesar 19126,82 N/m2. Untuk kerupuk yang ketiga yaitu kerupuk tempe
m awal sebesar 1,8 g, m ketika patah sebesar 5875,0 g, Δm sebesar 5873,2 g, F (Δm.g) sebesar 58,732 N σ (N/m2) F/A
sebesar 28538,39 N/m2. Dari ketiga jenis kerupuk yang memiliki Δm, diketahui bahwa jenis kerupuk blinjo memiliki nilai ∆m lebih kecil, dan akan
membutuhkan gaya (F) yang kecil pula. Hal tersebut menunjukkan σ juga kecil. Untuk jenis kerupuk puli memiliki nilai ∆m terbesar,
dan akan membutuhkan gaya (F) yang besar pula. Hal tersebut menunjukkan σ juga besar.
BAB V
PEMBAHASAN
Berdasarkan
hasil analisis diatas, uji kerenyahan pada krupuk puli mendapatkan gaya yang
paling banyak dibandingakan dengan kerupuk yang lainnya, yaitu blinjo dan
krupuk tempe. Hal itu disebabkan oleh faktor kemekaran pada saat penggorengan. Kerenyahan atau kerapuhan didefinisikan
sebagai gaya yang menyebabkan bahan patah. Sehingga dapat dikatakan bahwa
kerenyahan kerupuk berhubungan erat dengan tingkat kemekaran kerupuk. Tingkat
kemekaran kerupuk pada saat penggorengan sangat ditentukan oleh kadar air dalam
kerupuk terseput. Semakin banyak kandungan air pada kerupuk, maka tingkat
kemekaran kerupuk akan rendah. Kerenyahan kerupuk akan meningkat sejalan dengan
volume kemekaran kerupuk saat digoreng.
Kerenyahan juga dipengaruhi oleh komponen mikro struktur bahan kerupuk itu
sendiri, semakin halus mikro strukturnya maka produk yang dihasilkan lebih
mudah pecah saat digigit, dikunyah atau dihancurkan sehingga produk semakin
renyah.
Dalam
kegiatan pengujian kerenyahan secara objektif, untuk dapat mematahkan
kerenyahan kerupuk, kami memeberikan suatu tekanan yang bekerja pada kerupuk
tersebut tegangan atau stress adalah perbandingan antara gaya yang bekerja pada
benda dan luas penampang benda. Nilai ∆m pada kerupuk blinjo lebih kecil dari pada nilai ∆m kerupuk
puli dan kerupuk tempe. Semakin kecil nilai ∆m pada kerupuk maka semakin kecil pula
tegangan puncaknya, sehingga semakin tinggi pula tingkat kereyahan pada
kerupuk.
Pada jenis krupuk puli mengalami pemekaran yang
besar jika dibandingkan ketika sebelum dan sesudah digoreng, namun jenis krupuk
ini lebih mudah menyerap uap air jika dibiarkan dalam ruang terbuka, hal
ini menyebabkan krupuk puli memiliki
tingkat kerenyahan yang rendah. Sedangkan untuk jenis tempe juga mengalami
pemekaran dibandingkan sebelum dogoreng namun jenis krupuk ini juga mudah menyerap
uap air di udara juga, lalujenis krupuk belinjo tidak mudah menyerap air
sehingga jenis ini lebih lama mempertahankan kerenyahan.
BAB VI
PENUTUP
Dari hasil
percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kerenyahan dari krupuk
dipengaruhi oleh jenis krupuk. Kerenyahan kerupuk dapat diketahui melaui nilai
∆m dan
nilai tegangan puncaknya. Semakin kecil nilai ∆m pada kerupuk maka
semakin kecil pula tegangan puncaknya, sehingga semakin tinggi tingkat
kereyahan pada kerupuk.
DAFTAR
PUSTAKA
De Man, J.M., 1997. Kimia Makanan. Edisi Kedua. Penerbit ITB Bandung.
Figura,
L.O. & Teixeria, A. 2007. Food
physics. New York: Springer.
Food
Technology Corporation. 2009. TMS Console
(Online). http://www.foodtechcorp.com/Texture%20Measurement%20Systems/TMS-Console.php (diakses pada 10 Mei 2014).
Giancoli, D. 1995. Physics Principles with Application. New Jersey:
Prentice Hall.
Ramadhani,
Suci. 2012. Uji Pengenalan
Sifat-Sifat Organoleptik (Online). http://www.scribd.com/doc/90138773/Laporan-Orlep-Ke-2-Uji-Pengenalan-Sifat-sifat-Organoleptik (diakses pada 10 Mei 2014).
Toko Instrumen. 2009. Product
Catalog. http://tokoinstrument.itrademarket.com/688181/shore-rubber-hardness-tester.htm
(diakses pada 10 Mei 2014).
Widya, Imelda. 2009. Uji Kerenyahan (Online). http://imelda-wn.blogspot.com/2009/11/uji-kerenyahan.html (diakses pada 10 Mei 2014).
Laporan sementara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar