LAPORAN PRAKTIKUM FLUIDA
“SABUN DAN TEGANGAN PERMUKAAN”
OLEH:
1.
Sabiili Yuliastuti (12030654205)
2.
Eka Yuliati S (12030654217)
3.
Dewi Puspita Sari (12030654220)
4.
Fita Sukma Arini (12030654228)
5.
Utari Yulia Ariska (12030654237)
PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN SAINS
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2014
SABUN DAN
TEGANGANPERMUKAAN
ABSTRAK
Tegangan permukaan zat cair merupakan kecenderungan
permukaan zat cair untuk menegang, sehingga permukaannya seperti ditutupi oleh
suatu lapisan elastic. Tegangan permukaan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor, diantaranya adalah suhu, zat terlarut, dan surfaktan. Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan. Tujuan
praktikum kami Untuk mengetahui pengaruh penambahan sabun dalam air terhadap teganan
permukaan cairan. Metode yang
digunakan pada saat percobaan langkah pertama yaitu menimbang massa kawat
bagian bawah dengan neraca ohaus dengan variasi 6 kawat dengan massa yang
berbeda. Lalu mengukur volume sabun detergen dengan gelas ukur dengan volume 50
ml,75 ml, dan 100 ml, kemudian menuangkan masing-masing kedalam gelasa kimia
yang telah berisi air 250 ml. Lalu mencelupkan kawat dalam larutan sabun dan
mengangkatnya, kemudian mengitung waktu yang dibutuhkan gelembung untuk pecah.
Mengulangi langkah tersebut dengan konsentrasi saun yang berbeda dan juga denga
massa kawat yang berbeda untuk tiap konsentrasi sabun. Dari hasil percobaan
data yang dapat diketahui dengan massa
kawat 0,6; 1,1; 1,2; 1,3; 1,5 dan 1,6 gram didapatkan nilai tegangan permukaan
secara berturut-turut 0,05; 0,091; 0,1 ;0,108 ;0,125 ;1,33 N/m. Kesimpulan yang dapat diambil adalah Nilai tegangan permukaan berbanding
lurus dengan massa kawat yang digunakan. Semakin besar massa yang digunakan,
maka akan semakin besar pula tegangan permukaan yang dihasilkan. Semakin banyak konsentrasi detergen maka akan semakin
besar luas permukaan yang terbentuk oleh zat
cair pada kawat sehingga semakin kecil nilai tegangan permukaan.
Kata Kunci : Tegangan
permukaan, sabun, surkaktan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Banyak fenomena-fenomena
alam yang kurang kita perhatikan akan tetapi fenomena-fenomena tersbut
mempunyai hubungan dengan adanya tegangan permukaan. Sering terlihat
peristiwa-peristiwa alam yang tidak diperhatikan dengan teliti misalnya
tetes-tetes zat cair pada pipa keran yang bukan suatu aliran, laba-laba air
yang berada di atas permukaan air, gelembung-gelembung sabun, pisau silet yang
diletakkan perlahan-lahan di atas permukaan zat cair yang terapung, dan naiknya
air pada pipa kapile. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya gaya-gaya yang
bekerja pada permukaan zat cair atau pada batas antara zat cair dengan bahan
lain.
Tegangan permukaan
merupakan fenomena menarik yang terjadi pada zat cair (fluida) yang berada pada
keadaan diam (statis). Suatu molekul dalam fase cair dapat dianggap secara
sempurna dikelilingi oleh molekul lainnya yang secara rata-rata mengalami daya
tarik yang sama ke semua arah. Gejala ini yang disebut dengan tegangan
permukaan. Tegangan permukaan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor,
diantaranya adalah suhu, zat terlarut, dan surfaktan.
Oleh karena itu dilakukan
perobaan agar dapat mengetahui pengaruh adanya penambahan sabun dalam suatu
larutan pada tegangan permukaan yang dihasilkan dalam larutan tersebut.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang
yang dipaparkan dapat ditentukan rumusan masalah sebagai berikut:
Bagaimanakah pengaruh penambahan
sabun dalam air terhadap teganan permukaan cairan?
C. Tujuan
Adapun tujuan untuk
melakukan percobaan ini adalah:
Untuk mengetahui pengaruh
penambahan sabun dalam air terhadap teganan permukaan cairan.
D. Hipotesis
Semakin sedikit detergen
yang ditambahkan, maka tegangan pemukaan yan gdihsilkan semakin besar. Dan
semakin banyak detergen yan gditambahkan makan teganan permukaan semakin kecil.
BAB II
KAJIAN TEORI
Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan. Sabun biasanya berbentuk padatan tercetak yang disebut batang. Penggunaan sabun cair juga telah meluas, terutama pada sarana-sarana publik.
Jika diterapkan pada suatu permukaan, air bersabun secara efektif mengikat
partikel dalam suspensi mudah dibawa oleh air bersih.Di negara berkembang, deterjen sintetik telah menggantikan sabun sebagai alat bantu
mencuci atau membersihkan (Anonim, 2014).
Surfaktan merupakan molekul yang memiliki gugus
polar yang suka air (hidrofilik) dan gugus non polar yang suka minyak (lipofilik) sekaligus, sehingga dapat
mempersatukan campuran yang terdiri dari minyak dan air. Surfaktan adalah bahan
aktif permukaan, yang bekerja menurunkan tegangan permukaan cairan, sifat aktif
ini diperoleh dari sifat ganda molekulnya. Bagian polar molekulnya dapat
bermuatan positif, negatif ataupun netral, bagian polar
mempunyai gugus hidroksil sementara bagian non polar biasanya
merupakan rantai alkil yang panjang (Anonim, 2013).
Tegangan permukaan adalah gaya yang diakibatkan oleh suatu benda yang bekerja pada
permukaan zat cair sepanjang permukaan yang menyentuh benda itu. Tegangan permukaan zat cair merupakan kecenderungan permukaan
zat cair untuk menegang, sehingga permukaannya seperti ditutupi oleh suatu
lapisan elastic. Selain itu, tegangan permukaan juga diartikan sebagai suatu
kemampuan atau kecenderungan zat cair untuk selalu menuju ke keadaan yang luas
permukaannya lebih kecil yaitu permukaan datar atau bulat seperti bola atau
ringkasnya didefinisikan sebagai usaha yang membentuk luas permukaan baru.
Dengan sifat tersebut zat cair mampu untuk menahan benda-benda kecil di
permukaannya.
a.
Persamaan Tegangan Permukaan
Untuk membantu kita menurunkan persamaan tegangan
permukaan, kita tinjau sebuah kawat yang dibengkokkan membentuk huruf U. Sebuah
kawat lain yang berbentuk lurus dikaitkan pada kedua kaki kawat U, di mana
kawat lurus tersebut bisa digerakkan.
Jika kawat ini dimasukan ke dalam larutan sabun,
maka setelah dikeluarkan akan terbentuk lapisan air sabun pada permukaan kawat
tersebut. Karena kawat lurus bisa digerakkan dan massanya tidak terlalu besar,
maka lapisan air sabun akan memberikan gaya tegangan permukaan pada kawat lurus
sehingga kawat lurus bergerak ke atas (perhatikan arah panah). Untuk
mempertahankan kawat lurus tidak bergerak (kawat berada dalam kesetimbangan),
maka diperlukan gaya total yang arahnya ke bawah, di mana besarnya gaya total
adalah F = w + T. Dalam kesetimbangan, F = gaya tegangan permukaan yang
dikerjakan oleh lapisan air sabun pada kawat lurus.
Misalkan panjang kawat lurus adalah l. Karena
lapisan air sabun yang menyentuh kawat lurus memiliki dua permukaan, maka gaya
tegangan permukaan yang ditimbulkan oleh lapisan air sabun bekerja sepanjang
2l. Tegangan permukaan pada
lapisan sabun merupakan
perbandinganantara Gaya Tegangan Permukaan (F) dengan panjang permukaan
di mana gaya bekerja (d). Untuk kasus ini, panjang permukaan adalah 2l. Secara
matematis, ditulis :
Karena tegangan permukaan merupakan perbandingan
antara Gaya tegangan permukaan dengan Satuan panjang, maka satuan tegangan permukaan adalah Newton per meter
(N/m) atau dyne per centimeter (dyn/cm).
1
dyn/cm = 10-3 N/m = 1 mN/m.
Tegangan antar muka adalah gaya
persatuan panjang yang terdapat pada antarmuka dua fase cair yang tidak
bercampur. Tegangan antar muka selalu lebih kecil dari pada tegangan permukaan
karena gaya adhesi antara dua cairan tidak bercampur lebihbesar dari pada
adhesi antara cairan dan udara (Hamid, 2010).
a.
Faktor yang Mempengaruhi Tegangan
Permukaan
Pada dasarnya tegangan
permukaan suatu zat cair dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya suhu dan
zat terlarut. Dimana keberadaan zat terlarut dalam suatu cairan akan
mempengaruhi besarnya tegangan permukaan terutama molekul zat yang berada pada
permukaan cairan berbentuk lapisan monomolecular yang disebut dngan molekul
surfaktan. Faktor-faktor yang menpengaruhi :
1.
Suhu
Tegangan permukaan menurun
dengan meningkatnya suhu, karena meningkatnya energy kinetik molekul.
2.
Zat terlarut (solute)
Keberadaan zat terlarut
dalam suatu cairan akan mempengaruhi tegangan permukaan. Penambahan zat
terlarut akan meningkatkan viskositas larutan, sehingga tegangan permukaan akan
bertambah besar. Tetapi apabila zat yang berada dipermukaan cairan membentuk
lapisan monomolecular, maka akan menurunkan tegangan permukaan, zat tersebut
biasa disebut dengan surfaktan. Surfaktan (surface active agents), zat yang
dapat mengaktifkan permukaan, karena cnderung untuk terkonsentrasi pada
permukaan atau antar muka. Surfaktan mempunyai orientasi yang jelas sehingga
cenderung pada rantai lurus. Sabun merupakan salah satu contoh dari surfaktan.
b.
Sturktur surfaktan secara 3 dimensi
Molekul surfaktan yang bersifat amfifil yaitu suatu molekul yang mempunyai
dua ujung yang terpisah, yaitu ujung polar (hidrofilik) dan ujung non polar
(hidrifobik). Sifat surfaktan yang amfifil menyebabkan surfaktan diadsorpsi
pada antar muka baik itu cair/gas (yang tidak saling bercampur).
Surfaktan akan selalu berada pada antar muka suatu cairan (berbeda jenis),
bila jumlah gugus hidrofil dan lipofilnya seimbang. Tapi, apabila suatu
surfaktan memiliki gugus hidrofil lebih besar lipofil, maka surfaktan akan
lebih berada pada fase air dan sedikit berada pada antar muka. Sebaliknya, bila
suatu surfaktan memiliki gugus hidrofil lebih kecil dari lipofil maka surfaktan
akan lebih berada pada fase minyak dan sedikit berada pada antar muka.
Surfaktan dapat digunakan menjadi dua golongan besar yaitu, surfaktan yang
larut dalam minyak dan surfaktan yang larut dalam pelarut air. Surfaktan yang larut dalam minyak :
Ada tiga yang termasuk dalam golongan ini, yaitu senyawa polar berantai
panjang, senyawa fluorocarbon, dan senyawa silicon. Sedangkan surfaktan yang larut dalam pelarut air : Golongan ini
banyak digunakan antara lain sebagai zart pembasah, zat pembusa, zat
pengemulsi, zat anti busa, detergen, zat flotasi, oencegah korosi, dan
lai-lain. Ada empat yang temasuk dalam golongan ini yaitu surfaktan anion yang
bermuatan negative, surfaktan yang bermuatan positif, surfaktan nonion yang tak
terionisasi dalam larutan, dan surfaktan amfoter yang bermuatan negative dan
positif bergantung pada pH-nya.
Surfaktan menurunkan tegangan permukaan air dengan mematahkan ikatan-ikatan
hydrogen pada permukaan. Hal ini dilakukan dengan menaruh kepala-kepala
hidrofiliknya terentang menjauhi permukaan air. Sabun dapat membentuk misel
(miceves), suatu molekul sabun mengandung suatu rantai hidrokarbon panjang plus
ujung ion. Bagian hidrokarbon dari molekul sabun bersifat hidrofobik dan larut
dalam zat-zat non polar, sedangkan ujung ion bersifat hidrofilik dan larut
dalam air. Karena adanya rantai hidrokarbon, sebuah molekul sabun secara
keseluruhan tidaklah benar-benar larut dalam air, tetapi dengan mudah akan
tersuspensi di dalam air. Larutan surfaktan dalam air menunjukkan perubahan
sifat fisik yang mendadak pada daerah konsentrasi yang tertentu. Perubahan yang
mendadak ini disebabkan oleh pembentukan agregat atau penggumpalan dari
beberapa molekul surfaktan menjadi satu, yaitu pada konsentrasi kritik misel
(KMK).
Tegangan permukaan juga merupakan sifat fisik yang berhubungan dengan gaya
antarmolekul dalam cairan dan didefinisikan sebagai hambatan peningkatan luas
permukaan cairan. Awalnya tegangan permukaan didefinisikan pada antar muka
cairan dan gas. Namun, tegangan yang mirip juga ada pada tegangan antar muka
cairan-cairan, atau padatan dan gas. Tegangan semacam ini secara umum disebut
dengan tegangan antar muka.
(Douglas, 2001)
c.
Hubungan Deterjen dengan Tegangan Permukaan Air
Semua cairan memiliki tegangan permukaan, tetapi tegangan permukaan air
lebih tinggi dari yang lainnya. Tegangan permukaan dari air bisa diturunkan
dengan penambahan zat pembasah seperti sabun atau deterjen. Sabun dan deterjen
adalah surfaktan (zat aktif permukaan). Ketika suatu deterjen ditambahkan ke
butiran air dalam permukaan yang berminyak, tegangan permukaan akan menurun,
butiran-butiran akan hancur, dan air akan menyebar. Tegangan permukaan cairan
dapat didefinisikan sebagai gaya per satuan panjang pada permukaan cairan yang
melawan ekspansi dari luas permukaan. Tegangan permukaan cairan γ, berbeda-beda
bergantung pada jenis cairan dan suhu. Adanya zat terlarut pada cairan dapat
menaikkan atau menurunkan tegangan permukaan tergantung sifat zat terlarutnya.
Makin kecil nilai γ suatu cairan, makin besar kemampuan cairan tersebut
membasahi benda.
Penelitian mengenai sifat-sifat deterjen dan dampaknya terhadap perairan
yang telah dilakukan Manik, J.M (1987), yang menyimpulkan bahwa secara fisika
deterjen merupakan zat yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan zat cair.
Bhattacharya (2004) telah meneliti tentang studi tegangan permukaan poly (vinil
alcohol) yang dipengaruhi konsentrasi, suhu dan penambahan zat chaotropic telah
menyimpulkan bahwa suhu dan konsentrasi dapat meningkatkan dan menurunkan
tegangan permukaan molekul polimer tersebut. Syahra (2004) telah meneliti
pengaruh konsentrasi deterjen komersil dan komposisi linier alkilbenzen
sulfonat pada beberapa merek dagang deterjen cair terhadap tegangan antar
permukaan air-minyak tanah.
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
A. Rancangan Percobaan
A.
Alat dan Bahan
1.
Gelas kimia 500 ml 3 buah
2.
Kawat loop pengukur tegangan permukaan 6 buah
3.
Detergen 225
ml
4.
Neraca 1
buah
B. Variabel Percobaan
1.
Variabel manipulasi : konsentrasi detergen
Devinisi operasional : macam-macam konsentrasi detergen (50 ml, 75 ml, 100 ml)
2.
Variabel kontrol : panjang kawat
Devinisi operasional : panjangnya kawat saat kawat tadi di keluarkan dari detergen ,
hingga membentuk gelembung, sampai gelembung tersebut pecah.
3.
Variabel respon : tegangan permukaan
Devinisi operasional : tingkat tegangan permukaan yang dihasilkan.
C.
Alur

A. Langkah Percobaan
Langkah awal adalah menimbang kawat loop
bagian bawah dengan neraca ohaus, kemudian menuangkan sabun detergen kedalam
gelas ukur, mengukkur sesuai ukuran 50 ml,75 ml, dan 100 ml, kemudian
menuangkan kedalam gelasa kimia. Selanjutnya kawat loop tadi dicelupkan kedalam
cairan sabun, setelah dicelupkan pada cairan sabun di angkat, pada kawat loop
tersebut telah berisi gelembung, menghitungnya dengan menggunakan stopwatch ,
kemudian diamati sampai gelembung itu pecah , stopwatch dimatikan , mengulangi
langkah diatas dengan menggunakan konsentrasi detergen yang berbeda.
BAB IV
DATA DAN ANALISIS
A.
DATA
Panjang (Turunnya kawat)= 6 cm
A. Analisis
Tegangan permukaan zat cair
merupakan kecenderungan permukaan zat cair untu menegang, sehingga permukaannya
seperti ditutupi oleh suatu lapisan elastis dan dapat menahan benda. Hal ini
dikarenakan adanya gaya tarik menarik antara partikel zat cair (kohesi).
Dalam
praktikum ini digunakan alat berbentuk U untuk mengukur tegangan permukaan, dan
juga menggunakan 3 macam larutan
detergen dengan volume detergen 50 ml, 75 ml, dan 100 ml. Berdasarkan
data tersebut, Pada larutan
detergen dengan volume detergen 50 ml menunjukkan pecahnya lapisan elastis
(gelembung) lebih lama dari pada volume detergen 75ml dan 100 ml. Hal tersebut
dapat terlihat pada kawat dengan massa 1,1 gram dengan panjang turunnya kawat
sejauh 6 cm, pada volume detergen 50 ml, waktu yang diperlukan hingga gelembung
tersebut pecah adalah 8 menit 9 detik, untuk volume detergen 75 ml dibutuhkan
waktu 7 menit 81detik, sedangkan pada
volume detergen 100 ml, dibutuhkan waktu 7 menit 8 detik.
Pada kawat dengan massa 1,5 gram
dengan panjang turunnya kawat sejauh 6 cm, pada volume detergen 50 ml, waktu
yang diperlukan hingga gelembung tersebut pecah adalah 10 menit 39 detik, untuk
volume detergen 75 ml dibutuhkan waktu 8
menit 59 detik, sedangkan pada volume detergen 100 ml, dibutuhkan waktu 6 menit
51 detik.
Pada kawat dengan massa 1,2 gram
dengan panjang turunnya kawat sejauh 6 cm, pada volume detergen 50 ml, waktu
yang diperlukan hingga gelembung tersebut pecah adalah 11 menit 99 detik, untuk
volume detergen 75 ml dibutuhkan waktu 8
menit 4 detik, sedangkan pada volume detergen 100 ml, dibutuhkan waktu 7 menit
85 detik.
Pada kawat dengan massa 0,6 gram
dengan panjang turunnya kawat sejauh 6 cm, pada volume detergen 50 ml, waktu
yang diperlukan hingga gelembung tersebut pecah adalah 12 menit 65 detik, untuk
volume detergen 75 ml dibutuhkan waktu
10 menit 46 detik, sedangkan pada volume detergen 100 ml, dibutuhkan
waktu 10 menit 36 detik.
Pada kawat dengan massa 1,6 gram
dengan panjang turunnya kawat sejauh 6 cm, pada volume detergen 50 ml, waktu
yang diperlukan hingga gelembung tersebut pecah adalah 13 menit 49 detik, untuk
volume detergen 75 ml dibutuhkan waktu
10 menit 20 detik, sedangkan pada volume detergen 100 ml, dibutuhkan
waktu 8 menit 20 detik.
Pada kawat dengan massa 1,3 gram
dengan panjang turunnya kawat sejauh 6 cm, pada volume detergen 50 ml, waktu
yang diperlukan hingga gelembung tersebut pecah adalah 07 menit 80 detik, untuk
volume detergen 75 ml dibutuhkan waktu 7
menit 76 detik, sedangkan pada volume detergen 100 ml, dibutuhkan waktu 6 menit
93 detik.
Hal tersebut dapat diketahui besar tegangan
permukaan dipengaruhi oleh sifat larutan
itu sendiri yaitu tergantung banyaknya zat terlarut dalam suatu larutan dan
bukan tergantung pada volume larutan. Larutan yang pekat (zat terlarut banyak)
akan memiliki ukuran partikel yang besar dan jarak antar partikel yang relative
kecil sehingga tegangan permukaannya pun akan kecil. Dalam hal ini, detergen
merupakan zat yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan zat cair. Yang
membuat detergen bisa menurunkan tegangan permukaan air adalah zat didalam
detergen tersebut yang dinamakan surfaktan.
Grafik
BAB V
PEMBAHASAN
Tegangan permukaan zat cair merupakan kecenderungan
permukaan zat cair untuk menegang, sehingga permukaannya seperti ditutupi oleh
suatu lapisan elastis dan dapat menahan benda. Hal ini dikarenakan adanya gaya
tarik menarik antara partikel zat cair (kohesi). Berdasarkan
hasil analisis di atas, dapat diketahui bahwa waktu yang diperlukan gelembung
untuk meletus pada volume detergen 100 ml lebih cepat sepersekian detik
dibandingkan pada volume detergen 75 ml. Begitu juga pada volume deterjen 75
ml, gelembung juga lebih cepat meletus dibandingkan pada volume deterjen 50 ml.
Lama tidaknya waktu yang diperlukan gelembung untuk dapat meletus bergantung
pada tegangan permukaan yang dihasilkan dari
masing-masing konsentrasi zat terlarut dalam larutan deterjen tersebut.
Dalam hal ini, detergen merupakan zat yang
berfungsi menurunkan tegangan permukaan zat cair. Yang membuat detergen bisa
menurunkan tegangan permukaan air adalah zat didalam detergen tersebut yang
dinamakan surfaktan. Surfaktan merupakan zat yang dapat mengaktifkan permukaan
karena cenderung untuk terkonsentrasi pada permukaan atau antar muka, surfaktan
mempunyai orientasi yang jelas sehingga cenderung pada rantai lurus.
Hasil percobaan yang kami
lakukan telah sesuai dengan teori mengenai tegangan permukaan pada zat cair.
Dari data dan analisis di atas besarnya tegangan permukaan bergantung pada
massa kawat yang
digunakan pada masing-masing percobaan sesuai dengan rumus γ=
. Bahwa nilai tegangan permukaan berbanding
lurus dengan massa. Semakin besar massa kawat yang digunakan akan semakin besar
pula nilai tegangan permukaan yang dihasilkan. Hal tersebut dapat dibuktikan
bahwa ketika menggunakan massa kawat berturut-turut 0,6; 1,1; 1,2; 1,3; 1,5 dan
1,6 gram didapatkan nilai tegangan permukaan secara berturut-turut 0,05; 0,091; 0,1 ;0,108 ;0,125 ;1,33 N/m.

Selain itu, semakin banyak
konsentrasi detergen yang ditambahkan, maka akan semakin menimbulkan efek
“licin” pada kawat U yang digunakan sehingga kawat geser akan semakin menurun.
Turunnya kawat tersebut kemudian juga diikuti oleh menurunnya kerapatan dari lapisan elastis pada gelembung yang dihasilkan.
Sehingga gelembung tersebut juga akan semakin cepat pecah atau meletus. Dari hal tersebut, dapat diketahui bahwa
menurunnya nilai tegangan permukaan suatu zat cair dapat dilihat dari besar
luas permukaan lapisan yang dibentuk oleh gelembung detergen akibat pergeseran
panjang kawat. Semakin besar luas permukaan yang terbentuk oleh zat cair maka
semakin kecil nilai tegangan permukaan. Hal ini dikarenakan (jika dilihat dari nilai tegangan
permukaan diperoleh) pengaruh konsentrasi pemberian detergen
tidak dimasukkan dalam rumus sehingga seolah-olah pemberian konsentrasi
detergen tidak berpengaruh terhadap nilai tegangan permukaan
padahal sebenarnya fungsi dari detergen itu sendiri ketika dilarutkan dalam air
yaitu untuk menurunkan tegangan permukaan pada air tersebut.
BAB VI
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari pembahasan di atas
adalah:
Nilai tegangan permukaan berbanding
lurus dengan massa kawat yang digunakan. Semakin besar massa yang digunakan,
maka akan semakin besar pula tegangan permukaan yang dihasilkan. Semakin banyak konsentrasi
detergen maka akan semakin besar luas permukaan yang terbentuk oleh
zat cair pada kawat sehingga semakin kecil nilai tegangan permukaan.
DAFTAR PUSTAKA
Gabriel, J.F. 1996. Fisika Kedokteran. Jakarta: EGC. Giancoli. 2001. Fisika
Edisi ke-5 Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
D, Satya. 2012. Hubungan Detergen dengan Tegangan Permukaan Air . (Onlone),
(http://satyad.blogspot.com/2012/02/hubungan-deterjen-dengan-tegangan.html. diakses pada 5 Mei 2014)
Ibrahim, Solihin. 2000. Fisika. erlangga: Jakarta Kanginan, Marthen.
Physics for Senior High School 2nd Semester Grade XI. 2010. Jakarta: Erlangga
Rizky.2012. Tegangan Permukaan. (Online), (http://riizky007.blogspot.com/2012/10/tegangan-permukaan.html diakses pada 5 Mei 2014)
LAMPIRAN
cairan dengan tegangan permukaan kecil dapat membasahi permukaan, dapat pula cairan dengan tegangan permukaan kecil akan menembus cairan dengan tegangan permukaan lebih besar shg sabun menembus cairan kotoran dan kotoran mudah terlepas oleh gerakan dalam proses mencuci baju.
BalasHapusUntuk menebalkan lapisan bola pada gelembung sabun agar tidak mudah pecah orang menggunakan cairan gula (gelembung kecil kuat) dan atau cairan sagu untuk gelembung yg diharapkan lebih besar bulatannya.